Langsung ke konten utama

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 63 **Bermadzhab Imam Syafi’i**

# 📘 Tafsir Surat An-Nisa Ayat 63 **Bermadzhab Imam Syafi’i** ### 📌 Teks Arab **أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا** ## 1. Terjemahan *"Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati
mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran,
dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka."*
(Kemenag RI) --- ## 2. Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat) Ayat ini turun berkaitan dengan sekelompok orang yang mengaku beriman
namun masih berpegang pada hukum selain hukum Allah ketika terjadi
perselisihan. Disebutkan tokoh-tokoh seperti **Al-Jallas bin Syamit, Mat’ab bin Qusyair,
dan Rafi’ bin Zaid**. Ketika ada masalah, mereka enggan membawa perkara
kepada Nabi ﷺ, melainkan kepada tukang tenung atau adat jahiliyah. Ibnu Abbas RA menjelaskan: > *"Ketika mereka diperintah datang kepada Rasulullah ﷺ untuk menyelesaikan
perselisihan, mereka enggan dan berpaling. Maka Allah menegaskan bahwa
Dia mengetahui hakikat isi hati mereka, lalu memberikan petunjuk kepada
Nabi ﷺ tentang sikap yang harus diambil: tidak memusuhi secara
terang-terangan, namun tetap menasihati dengan cara yang menyentuh hati."* Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat 60–62 yang menegur sikap mereka
yang lebih menyukai hukum selain Islam, dan ayat 63 ini menjadi penutup
dengan menetapkan metode dakwah dan sikap menghadapi kelompok tersebut. --- ## 3. Tafsir Ulama Terpercaya (Referensi Pondok Pesantren) ### 📗 Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir menjelaskan makna: > **أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ** > *"Mereka adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang tersimpan di
dalam hati mereka,"* yaitu kemunafikan, kebencian, dan keinginan untuk
menyimpang dari kebenaran, meskipun ucapan lahiriahnya menyatakan iman. Karena Allah sudah mengetahui hakikat mereka, maka perintah-Nya: 1. **فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ** *"Maka berpalinglah kamu dari mereka"*: Artinya, jangan kamu
hukum mereka berdasarkan apa yang kamu ketahui, jangan kamu ungkit aib
mereka, dan serahkan urusan hati mereka kepada Allah. Jangan pula kamu
percaya sepenuhnya pada ucapan manis mereka. 2. **وَعِظْهُمْ** *"Dan berilah mereka pelajaran"*: Tetaplah mengingatkan mereka
dengan dalil-dalil Allah, jelaskan bahaya kemaksiatan, dan seru mereka kembali
ke jalan yang benar. 3. **وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا** *"Dan katakanlah kepada mereka, mengenai
keadaan diri mereka, perkataan yang berbekas"*: Yaitu perkataan yang masuk
ke dalam inti jiwa, menyentuh perasaan, membuat mereka sadar akan
kesalahan, baik itu berupa peringatan akan azab maupun kabar gembira
jika mereka bertobat. ### 📕 Tafsir Al-Jalalain > *"Mereka itu orang-orang yang Allah tahu isi hati mereka berupa kemunafikan
dan kebencian. Maka berpalinglah: maafkanlah mereka dan jangan kamu hukum.
Berilah mereka nasihat agar mereka takut kepada Allah. Dan katakanlah kepada
mereka perkataan yang dalam, yang berbekas dan berpengaruh di dalam hati
mereka, baik itu bantahan yang meyakinkan maupun peringatan yang menggetarkan
jiwa agar mereka kembali dari kesesatan."* ### 📙 Tafsir As-Sa'di Ayat ini mengajarkan prinsip keseimbangan dalam mendidik dan berdakwah: **Tidak
mengabaikan sepenuhnya, namun juga tidak bertindak berlebihan atau kasar.**
Pengetahuan Allah akan hati mereka menjadi dasar sikap kita: kita menilai tindakan
lahiriah, namun kita berbicara menuju perbaikan batiniah dengan kata-kata yang
tepat sasaran (*baligh*). --- ## 4. Pelajaran & Hikmah dalam Kehidupan Sehari-hari 1. **Kesempurnaan Pengetahuan Allah** Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi di dalam hati, tidak ada satu
pun rahasia yang luput dari-Nya. Ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga
keikhlasan, karena meskipun manusia tidak tahu, Allah Maha Mengetahui. > **قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ** > *"Katakanlah: 'Jika kamu menyembunyikan apa yang ada di dadamu atau
jika kamu menyatakannya, Allah mengetahuinya.'"* (QS. Ali Imran: 29) 2. **Etika Menghadapi Orang yang Berbuat Salah** Ayat ini memberikan rumus sikap yang indah: - **Berpaling**: Jangan terpancing emosi, jangan membalas kejahatan
dengan kejahatan, hindari konflik yang tidak perlu. - **Menasihati**: Tetap jalankan kewajiban mengajak kebaikan, jangan
memutus hubungan persaudaraan. - **Bicara yang Berbekas**: Gunakan bahasa yang santun, logis, dan
menyentuh hati, bukan bahasa yang menyakiti atau mempermalukan. 3. **Metode Komunikasi Efektif** Kata *Baligh* berarti "sampai dan menembus". Dalam dakwah maupun
pergaulan, keberhasilan bicara bukan pada banyaknya kata, tapi apakah
pesan itu sampai ke hati lawan bicara. Nasihat yang baik adalah yang
mengubah perilaku, bukan sekadar terdengar oleh telinga. 4. **Batasan Menilai Manusia** Kita dilarang menghakimi isi hati orang lain, karena itu hak mutlak Allah.
Kita hanya menilai apa yang tampak lahiriahnya. Sisanya, kita serahkan
kepada Allah. --- ## 5. Ulasan Kajian Ilmu Balaghoh (Retorika Bahasa Arab) Ayat ini merupakan puncak keindahan gaya bahasa Al-Qur’an yang memadukan
kekuatan makna dan kelembutan ungkapan. Berikut analisisnya: ### ✅ Ijaz (Singkat, Padat, Penuh Makna) Kalimat **يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ** disampaikan secara singkat namun mengandung
makna mutlak. Tidak dijelaskan rincian apa yang ada di hati, karena cakupan
pengetahuan Allah itu luas. Ini disebut *Ijaz Qashr*, menyampaikan makna luas
dengan lafaz sedikit. ### ✅ Tartib wa Tasaquq (Urutan yang Sistematis) Ada urutan logis yang sangat indah dalam perintah: 1. **Berpaling** → Sikap lahiriah menjauhi konflik. 2. **Mengajarkan/Menasihati** → Upaya pemberian ilmu. 3. **Bicara yang berbekas** → Pendekatan ke dalam hati. Urutan ini sesuai dengan prinsip balaghoh: *mulai dari yang ringan, menuju
yang lebih dalam dan berpengaruh.* ### ✅ Makna Lafadz: **قَوْلًا بَلِيغًا** Kata *Baligh* berasal dari kata *Balagha* yang artinya sampai. Para ahli
balaghoh menjelaskan makna ganda: - Sampai ke telinga dan akal pikiran. - Sampai ke hati dan perasaan. - Sampai ke tujuan yang diinginkan (membuat sadar dan berubah). Ini adalah tingkatan tertinggi dalam gaya bahasa, di mana perkataan itu sendiri
memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. ### ✅ Dhomir (Kata Ganti) **فِي أَنفُسِهِمْ** Penggunaan kata *fi anfusihim* (dalam jiwa mereka) menunjukkan arah nasihat:
**masalah yang dibicarakan harus mengenai diri mereka sendiri, bukan membicarakan
orang lain.** Ini adalah teknik dakwah yang tepat sasaran, menegur kesalahan
pribadi secara langsung namun halus. > **Imam Ar-Razi** berkomentar: *"Susunan ayat ini adalah standar balaghoh
dalam berdakwah: Tegas dalam prinsip, lembut dalam penyampaian, dan tepat
sasaran dalam materi."* --- ## 6. Ulasan Kajian Ilmu Mantiq (Logika Berpikir) Ayat ini dibangun di atas struktur logika yang kokoh dan tidak terbantahkan, sesuai
kaidah ilmu mantiq: ### ✅ Premis Utama (Muqaddimah Kubra) > **"Allah mengetahui apa yang ada di hati mereka."** Ini adalah kebenaran mutlak dan pasti (*Qadhiyah Haqiqiyah*). Sifat Allah adalah
Al-'Alim (Maha Mengetahui), maka pengetahuan-Nya pasti benar, tidak ada
keraguan. ### ✅ Kesimpulan & Konsekuensi (Natijah) Berdasarkan premis di atas, maka hukum dan sikap yang diambil adalah benar
dan tepat: > **"Maka berpalinglah, nasihatilah, dan katakanlah..."** Secara logika, karena kita tahu hakikat mereka (berdasarkan pemberitahuan
Allah), maka tindakan kita harus menyesuaikan dengan hakikat tersebut, bukan
hanya berdasarkan tampilan luar. Ini disebut **Al-Hukmu 'ala Syai'in bi Hasabi
Haqiqatihi** (Menghukum sesuatu sesuai hakikatnya). ### ✅ Pola Berpikir Bertingkat Ayat ini mengajarkan pola berpikir sistematis: 1. **Mengenal Objek**: Ketahui siapa lawan bicara, apa sifat dan keadaan hatinya. 2. **Menentukan Sikap**: Sesuaikan cara menghadapi (berpaling = menjaga diri dari bahaya). 3. **Melakukan Tindakan**: Gunakan metode yang efektif (nasihat + kata yang berbekas = mencapai tujuan). Tidak ada pertentangan logika di sini. Sikap "berpaling" tidak bertentangan dengan
"menasihati". Secara logika, berpaling dari pertengkaran justru menjadi syarat agar
nasihat bisa diterima. --- ## 7. Ushul Fikih & Qoidah Fikih Madzhab Syafi'i Ayat ini menjadi dasar penetapan beberapa kaidah fikih yang sangat penting
dalam Madzhab Syafi’i. ### 📚 Ushul Fikih yang Terkait 1. **Al-Umur Bimaqashidiha** > **الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا** > *"Segala perkara dinilai dari tujuannya."* Perintah menasihati dan berbicara harus bertujuan untuk kebaikan dan
perbaikan, bukan untuk mencari kesalahan atau mempermalukan. Imam Syafi’i
menekankan bahwa hukum lahiriah dikaitkan dengan niat di dalam hati.
Meskipun Allah tahu isi hati, hukum syariat berjalan berdasarkan apa yang
tampak dan tujuan yang jelas. 2. **Al-Hukmu Yaduru Ma’a ‘Illatihi** > **الْحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ** > *"Hukum berjalan bersama sebab/illatnya."* Karena *illat* (sebab) adanya kerusakan atau kekeliruan ada pada diri
mereka, maka hukumnya adalah mendidik dan menasihati. Jika keadaan
berubah menjadi baik, maka sikap pun berubah menjadi persahabatan dan kerjasama. 3. **Wujubud Da’wah bil Hikmah** Wajib mengajak ke jalan Allah dengan kebijaksanaan, sesuai kemampuan
dan kondisi objek dakwah. Ayat ini adalah tafsir konkret dari Surat An-Nahl: 125. ### 📜 Qoidah Fikih Madzhab Syafi'i 1. **Idza 'adzara faqad 'adzala** > **إِذَا أَعْذَرَ فَقَدْ أَعْذَلَ** > *"Apabila seseorang sudah memberikan penjelasan/nasihat, maka ia sudah
terbebas dari tanggung jawab (kesalahan) jika orang itu tidak mau menerima."* Menurut Syafi’i, tugas kita hanya menyampaikan pesan dengan cara yang
baik (*qaulan baligha*). Hasil akhir diterima atau tidak, itu urusan hati mereka
dan urusan Allah. Kita tidak bertanggung jawab atas keberhasilan perubahan
hati, karena itu kuasa Allah. 2. **Man ra'a munkaran falyughayyirhu bi lisanihi aw bi qalbi** > **مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِلِسَانِهِ أَوْ بِقَلْبِهِ** > *"Siapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan lisannya atau hatinya."* Ayat ini menerapkan dua tingkatan: - *Berpaling* = mengubah dengan hati (membenci perbuatan itu, menjauhi
pelakunya demi Allah). - *Menasihati* = mengubah dengan lisan. Imam Syafi’i berpendapat bahwa jika mengubah dengan tangan akan memicu
fitnah yang lebih besar, maka cukup gunakan lisan dan hati, persis seperti
petunjuk ayat ini. 3. **Ad-Dararu Yuzal** & **Al-Maslahah Mursalah** Menghindari bahaya (berpaling) dan mengambil kemaslahatan (menasihati)
adalah inti syariat. Madzhab Syafi’i selalu berpegang pada keseimbangan
antara mencegah kemudaratan dan menarik kemaslahatan. --- ## 8. Hadits Nabi ﷺ, Kisah Ulama, & Pandangan Tasawuf ### 📜 Hadits Nabi ﷺ 1. Dari Ibnu Abbas RA: > *"Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah memerintahmu tiga perkara
berkenaan dengan orang-orang yang menyimpang: Berpalinglah dari
pertengkaran mereka, nasihatilah mereka, dan bicaralah kepada mereka
dengan perkataan yang sampai ke hati mereka.' Lalu beliau membacakan ayat
ini."* (HR. Thabrani) 2. Dari Abu Hurairah RA: > **مَنْ وُعِظَ فَبَلَغَهُ الْمَوْعِظَةُ فَقَدْ أُحِبَّ** > *"Siapa yang diberi nasihat lalu nasihat itu sampai kepadanya, sungguh ia
telah dicintai (oleh pemberi nasihat)."* (HR. Ath-Thabrani) Hadits ini menegaskan bahwa makna *qaulan baligha* adalah buah dari kasih
sayang, bukan kebencian. 3. Hadits Riwayat Muslim: > **إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ** > *"Sesungguhnya segala amal tergantung niatnya."* Menjadi dasar bahwa saat kita berkata *qaulan baligha*, niatnya haruslah
perbaikan, bukan keinginan mempermalukan. ### 📖 Kisah Ulama **Imam Syafi’i** Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah didatangi seseorang yang sangat
keras kepala dan suka berdebat. Imam Syafi’i tidak membalas dengan ketus,
namun ia diam sejenak, lalu berkata: > *"Wahai saudaraku, sesungguhnya Allah berfirman:
**فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا**.
Aku berpaling dari kerasnya bahasamu, aku menasihatimu karena Allah, dan
aku katakan padamu: Janganlah kamu membe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafsir Lengkap Surat An-Nisa Ayat 60 — Menurut Mazhab Syafi’i

📘 Tafsir Lengkap Surat An-Nisa Ayat 60 —       📝 Teks Arab, Bacaan & Arti   أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ ۖ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا ۝٦٠   Bacaan: Alam tara ilal-ladzina yaz’umuna annahum amanu bima unzila ilaika wa ma unzila min qablika, yuriduna an yatahakamau ilath-thaghuti wa qad umiru an yakfuru bih, wa yuridusy-syaithanu an yudhillahum dhalalan ba’ida.    Artinya:   "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya."       📌 1. Asbabun Nuzul (Sebab Turu...

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 62 — Menurut Mazhab Syafi’i

📘 Tafsir Surat An-Nisa Ayat 62 — Menurut Mazhab Syafi’i   (Lanjutan ayat 60–61, acuan kitab pesantren: Tafsir Jalalayn, Ibnu Katsir, Al-Umm, Fathul Qarib)       📝 Teks Arab, Bacaan & Arti   فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا ۝٦٢   Bacaan: Fa kaifa idzaa asaabathum mushibatum bimaa qaddamat aidiihim, tsumma jaa-uuka yahlifuuna billaahi in aradnaa illaa ihsaanaa wa taufiqaa.   Artinya:   "Maka bagaimana halnya apabila mereka ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri? Kemudian mereka datang kepadamu, sambil bersumpah dengan nama Allah: 'Kami tidak menghendaki selain kebaikan dan jalan yang lurus'."       📌 1. Kaitan dengan Ayat Sebelumnya   - Ayat 60: Dicela karena ingin berhakim ke hukum selain Allah (Thaghut). - Ayat 61: Dicela karena saat dipanggil ke syariat, mereka berpaling keras-ke...

Inilah, Foto Asli Syaikhona Kholil Bangkalan (Mbah Kholil)

Siapa yang tidak mengenal sosok ulama kharismatik maha guru ulama nusantara, dialah Mbah Kholil Bangkalan. Namanya begitu masyhur di seantero Nusantara, namun wajah beliau yang asli masih banyak yang belum tahu. Sebab foto yang banyak beredar di internet selama ini masih dipertanyakan keasliannya. Sampai akhirnya ditemukanlah foto asli Mbah Kholil di Den Haag, Belanda. Di lansir dari Times Indonesia , KH. Zubair Muntashor, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Kholil Bangkalan Madura, yang juga adalah cicit dari Syaikh Kholil, berkata “Jadi harus diluruskan bahwa foto itu bukan Kiai Kholil. Tapi foto orang lain, namanya Din Kammuk (Raden Kammuk),” . “Kekeliruan foto terjadi karena Raden Kammuk memiliki nama lahir yang sama dengan Syaichona KH Mohammad Kholil yakni Holil bin Zainal Alim,” jelasnya. KH Zubair Muntashor menuturkan Raden Kammuk semasa hidupnya merupakan Khotib Khutbah Jumat di Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan. Rumahnya, di Jalan Jokotole II RT 12 Kelurahan ...